Medan, 19/6 (indonesiaaktual.com) – Ahli Bedah Plastik dari Indonesia, Dr. dr. Arya Tjipta, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M(K) mengungkapkan, hasil penelitiannya tentang pemanfaatan daun sirih cina (Peperomia pellucida) untuk penyembuhan luka bakar sudah terbukti.
“Penelitian yang berlangsung selama satu tahun dan telah melalui uji coba selama dua bulan membuktikan khasiat daun sirih cina untuk penyembuhan luka bakar, ” ujar Dr. dr. Arya Tjipta, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M(K) di Medan, Rabu (19/6/2024).
Hasil penelitian itu sudah diterbitkan dalam jurnal internasional dengan skor indeks Scopus Q1.
Menurut Dr. Arya, ketertarikannya terhadap daun sirih cina berawal dari pengetahuan bahwa tanaman ini telah digunakan sejak zaman dahulu untuk penyembuhan luka, dan hasilnya terbukti efektif.
“Tanaman itu tumbuh optimal di daerah dataran tinggi sehingga menjadikannya sebagai bahan yang mudah diperoleh dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut,”ujar Dr Arya.
Dr Arya yang merupakan staf pengajar di Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) itu menambahkan, uji coba terhadap manfaat daun sirih cina itu dilakukan pada tikus yang memiliki jaringan kulit hampir menyamai kulit manusia.
Penelitian itu membandingkan efektivitas pengobatan luka bakar menggunakan daun sirih cina dengan salep luka bakar yang umum digunakan.
“Daun sirih cina terbukti bekerja baik pada fase pertama dan kedua proses penyembuhan, mempercepat proses radang,”ujarnya.
Untuk itu, kata Dr. Arya, dia mengajak mahasiswa dan dosen Fakultas Farmasi USU yang dikomandoi Dr. Rony Abdi Syahputra untuk berkolaborasi dalam penelitian tersebut
Dalam waktu dekat, penelitian itu akan diuji coba pada kulit manusia.
“Rencana uji klinis dimulai pada bulan Juli mendatang,”katanya.
Penelitian itu menunjukkan bahwa pengobatan luka menggunakan daun sirih cina akan lebih murah 10-15 persen dibandingkan dengan obat yang memiliki manfaat serupa.
Potensi pengembangan sangat besar mengingat bahan bakunya tersedia melimpah dan dapat dipasarkan di dalam negeri.
“Namun, pengembangan produk harus melalui proses yang etis, termasuk persetujuan dari pasien dan tidak merusak lingkungan,” ujarnya.
Dr. Arya menekankan pentingnya menggunakan krim atau gel untuk pengobatan luka karena kadar airnya yang cukup dibandingkan salep yang lebih banyak mengandung minyak.
Selain itu, penelitian ini akan didaftarkan terlebih dahulu ke HAKI, mengingat langkah itu merupakan penelitian pertama yang dilakukan di bidang tersebut.
Hasil penelitian Dr. Arya telah dipresentasikan pada Konferensi Tahunan European Wound Management Association (EWMA) di London pada bulan Mei 2024.
Terobosan pemanfaatan daun sirih cina untuk penyembuhan luka bakar memberikan harapan baru dan menunjukkan bahwa inovasi dapat membuka jalan untuk masa depan yang lebih sehat.
” Dengan potensi besar untuk dikembangkan dan dipasarkan, penelitian itu tidak hanya membawa nama Indonesia ke panggung global, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap evolusi perawatan medis di seluruh dunia,”ujar Arya. (lis)










