Medan, 20/8 (indonesiaaktualcom) – Pola pengasuhan sejak hamil dan masa bayi lima tahun (Balita) dinilai sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
Kesimpulan itu menjadi pembahasan menarik dan seru dalam Talkshow KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) Sumatra Utara 2026 bertajuk “Asuh Berpadu, Anak Melaju” yang digelar Tanoto Foundation di Medan, Kamis (20/8/2026).
Salah satu pembicara di Talkshow itu, seorang psikolog yang Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU), Rahma Yurliani, MPsi, mengatakan, proses perkembangan psikologis anak bukan dimulai setelah kelahiran.
Tetapi, katanya, sejak anak di dalam kandungan.
Di dalam kandungan, katanya, telah terbentuk attachment atau kelekatan antara ibu dan anak.
Dia menegaskan, dari perspektif psikologi, perkembangan anak sebenarnya bukan dimulai dari nol ketika dia lahir, tetapi sejak dalam kandungan dinana attachment itu sudah terbentuk
Menurut dia, respons ibu terhadap gerakan bayi, perhatian dan kondisi emosional selama kehamilan menjadi bagian dari proses membangun hubungan emosional dengan anak.
Proses tersebut kemudian berlanjut setelah anak lahir melalui hubungan dengan keluarga dan lingkungan.
“Oleh karena itu pulalah, maka kondisi psikologis ibu selama kehamilan perlu mendapat perhatian sebagai salah satu fondasi perkembangan anak,” katanya.
Penyuluh KB Ahli Madya, Rilmawati Br Tarigan, SKM, MKM, mengatakan pemerintah terus memperkuat pola pengasuhan melalui berbagai program, salah satunya Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak).
Program tersebut memberikan edukasi kepada pengasuh mengenai pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak sesuai usia, termasuk kebutuhan gizi.
Dia mengakui, tidak semuanya paham bagaimana pengasuhan yang baik sesuai dengan umurnya, termasuk pola makan yang terkadang disamaratakan.
Menurut dia, pengasuhan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Ayah, tetapi nenek dan anggota keluarga lainnya juga dapat terlibat dalam pengasuhan dengan memahami kebutuhan anak sesuai tahapan perkembangannya.
Pemerintah, ujar Rilmawati juga sudah mendorong keterlibatan ayah melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia, termasuk sejak masa kehamilan.
Ayah juga harus berperan, mulai dari saat kehamilan, mendampingi istrinya melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan dan mendukung istrinya memberikan ASI eksklusif.
Sementara itu, Wakil Ketua sekaligus Breastfeeding Counselor AIMI Sumatera Utara, Miranda Agustien, mengatakan, pertumbuhan anak secara optimal juga di dukung dari soal pemenuhan gizi.
Miranda Agustien, mengatakan, persoalan gizi ibu dan anak masih ditemukan belum cukup di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Medan Utara.
Menurut dia, kondisi di lapangan terkadang berbeda dengan data yang tersedia.
“Edukasi mengenai pemenuhan gizi sejak kehamilan hingga masa pertumbuhan anak dinilai masih perlu diperkuat, ” katanya.
Mulai dari gizi ibu, gizi calon bayi, bayi hingga anak yang berada di “golden age”
“Dengan cara itu, diharapkan anak bisa bertumbuh dengan baik. Bukan hanya dari nutrisi, tetapi juga perkembangan sosial, emosional dan lainnya,” ujarnya.
Miranda mengatakan pemenuhan gizi membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas dan organisasi masyarakat.
AIMI juga terus memperluas pendampingan menyusui di berbagai daerah
Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva dalam pembukaan acara, menekankan pentingnya memperkuat fondasi pendidikan sejak usia dini, terutama literasi dan numerasi.
Menurut dia, tingginya angka partisipasi sekolah dan rasio guru belum otomatis menjamin kualitas hasil belajar.
Oleh Kmarena itu, katanya, kemampuan dasar anak perlu dibangun sejak pendidikan anak usia dini dan diperkuat pada kelas awal sekolah dasar.
“Kalau kelas 1, kelas 2 itu sudah tertanam dengan baik literasi-numerasi, guru SD lebih enak untuk mengajarkan sesuatu, dengan memfasilitasi pembelajaran, siswa sudahbisa belajar sendiri,”ujarnya.
Medi menilai peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga dan berbagai pihak lainnya.
“Melalui KIARA Sumut 2026, diharapkan penguatan pengasuhan tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dengan pemenuhan gizi, keterlibatan keluarga serta pendidikan untuk membangun fondasi tumbuh kembang anak secara berkelanjutan,” katanya.
Medi Yusva mengatakan tingkat partisipasi pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah cukup tinggi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi sekolah tingkat SD mencapai sekitar 99 persen, sedangkan SMP sekitar 95 persen.
Dia juga menegaskan, bahwa persoalan pendidikan di Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah guru.
Dari sisi rasio guru dan siswa, Indonesia , katanya, bahkan memiliki angka yang relatif baik dibandingkan sejumlah negara di kawasan.
“Rasio kita itu paling bagus, 1 banding 16, dibandingkan Malaysia yang1 banding 19 dan Singapura 1 banding 24,” ujar Medi.
Menurut dia, persoalannya, kata dia, lebih banyak berkaitan dengan pemerataan tenaga pendidik..
“Untuk itu, penguatan pendidikan dasar perlu dimulai sejak pendidikan anak usia dini dan diperkuat pada kelas awal sekolah dasar, khususnya kelas 1 hingga kelas 3.Kemampuan literasi dan numerasi,harus dibangun sejak dini agar anak memiliki fondasi yang kuat dalam proses pembelajaran selanjutnya, “ujarnya. (lis)
“










