Medan, 26/1 (indonesiaaktual.com) –
Direktur Rumah Sakit Mata Mencirim 77 Medan, dr. Syarifuddin A., Sp.M, menyatakan, jumlah penderita mata katarak akan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat sehingga perlu dukungan kuat swasta, BUMN dan lainnya untuk menanganinya.
“Katarak merupakan penyakit degeneratif. Karena itu, operasi mata katarak tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi harus didukung swasta, BUMN dan lainnya,” ujarnya di Medan, Senin (26/1/2026).
Jika hanya mengandalkan fasilitas pemerintah, katanya, kemungkinan besar penanganan penyakit mata katarak itu tidak maksimal karena biaya opersi cukup mahal.
“Oleh karena itu kami mengapresiasi swasta seperti Tambang Emas Martabe (PT Agincourt Resources) yang rutin setiap tahun memfasilitasi operasi katarak masyarakat secara gratis,” katanya di kegiatan penutupan operasi mata katarak itu.
Kerja sama operasi mata katarak dengan PT Agincourt Resources, katanya sudah ke empat kali.
“Koordinasi dan sistemnya terus membaik. Tidak ada yang mendominasi, semuanya bersinergi dengan satu tujuan utama, yaitu kepuasan dan keselamatan pasien,” katanya.
Senior Manager Community PT Agincourt Resources, Christine Pepah mengatakan, secara keseluruhan, Operasi Katarak Gratis 2025 Tambang Emas Martabe berhasil memulihkan 1.465 mata katarak pada 1.357 pasien/warga Sumut.
Operasi mata katarak itu digelar di 5 lokasi di Sumut.
Lima lokasi yakni RS Bhayangkara Batang Toru, Tapanuli Selatan (586 mata), RSUD Pandan, Tapanuli Tengah (71 mata), RSUD Sipirok, Tapanuli Selatan (328 mata), RS Mata Pematangsiantar (369 mata), dan RS Mata Mencirim 77 Medan (111 mata).
Christine Pepah mengatakan, pelaksanaan operasi di Medan merupakan bentuk komitmen perusahaan menuntaskan program sekaligus menepati janji kepada para pasien yang terdampak penundaan jadwal pada November 2025.
“Saat bencana terjadi di Desa Garoga, Batang Toru dan sekitarnya, PTAR bersama pemerintah daerah dan instansi terkait mengalihkan fokus serta sumber daya untuk tanggap darurat, mulai dari pembukaan akses jalan, posko pengungsian, dapur umum, layanan kesehatan, hingga distribusi logistik,”ujar Christine.
Padahal sejak November 2025, sekitar 111 warga Medan dan sekitarnya telah terdaftar dan menunggu jadwal operasi.
Oleh krena itu, setelah situasi darurat terkendali, PTAR bersama RS Mata Mencirim 77 sepakat melanjutkan operasi pada Januari 2026 sebagai rangkaian penutup program.
Christine Pepah menjelaskan, program ini ditujukan untuk membantu masyarakat penderita katarak yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan mata, sehingga dapat kembali beraktivitas secara mandiri, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Kegiatan itu, katanya, juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3, yakni menjamin kehidupan sehat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di segala usia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumut, Novi Saragih menyebutkan, penyakit mata termasuk katarak semakin meningkat karena dipicu penggunaan gadget yang semakin sulit dihindari sejalan dengan perkembangan zaman.
Untuk menekan penyakit mata itu, maka penggunaan gadget disiasati.
Seperti misalnya, mengistrirahatkan mata sekitar 20 detik dari tatapan ke gadget.
“Kedip kedipkan mata agar air di mata bisa mengoles mata lelah. Atau pandang ke dedaunan hijau untuk merehatkan mata,” katanya. (lis)










