Medan, 31/3 (indonesiaaktual.com) -Volume ekspor karet alam Sumatera Utara (Sumut) pada Februari 2026 menunjukkan peningkatan sedikit atau 18.661 ton di tengah tekanan permintaan global yang masih lemah.
“Volume ekspor sebesar 18.661 ton di Februari itu meningkat tipis dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 18.467 ton,” ujar Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah di Medan, Selasa (31/3/2026).
Meski mengalami peningkatan di Februari 2026, namun secara tahunan, kinerja ekspor karet Sumut mengalami kontraksi.
Pada Februari 2025 volume ekspor karet Sumut sudah 20.659 ton Kondisi ekspor yang relatif stagnan itu bahkan jauh dari level normal historis yang dapat mencapai sekitar 42 ribu ton per bulan.. “Hal itu menunjukkan bahwa pemulihan permintaan global terhadap karet alam masih berlangsung secara bertahap dan belum merata, ” ujar Edy Irwansyah.
Dia menjelaskan, dari sisi pasar tujuan, ekspor karet Sumut pada Februari 2026 masih didominasi oleh negara-negara utama, yaitu Jepang (30,06%), Amerika Serikat (22,95%), China (10,18%), Brasil (9,07%), serta Korea Selatan (3,35%).
“Ekspor ke Korea Selatan menunjukkan tren peningkatan.Kalau biasanya, negara itu posisinya berada di luar lima besar, bahkan sering berada di peringkat di atas 10, kali ini masuk dalam lima besar,” katanya
Dia menyebutkan, total ekspor karet Indonesia ke kawasan Uni Eropa pada Februari 2026 tercatat sebesar 13,5% dari total ekspor atau sekitar 2,42 ribu ton.
“Kontribusi Uni Eropa cukup signifikan secara agregat, namun tersebar luas tanpa dominasi kuat dari satu negara tertentu,”katanya.
Edy Irwansyah menjelaskan, beberapa faktor utama yang masih menekan kinerja ekspor antara lain, permintaan global yang belum pulih sepenuhnya, terutama dari industri otomotif dan manufaktur, serta adanya penundaan pengapalan (delay shipment) akibat kendala jadwal kapal yang dipengaruhi oleh dinamika logistik global, termasuk gangguan jalur pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Di sisi lain, pasokan karet alam dari Sumut juga masih terbatas seiring dengan musim gugur daun (wintering) yang menyebabkan penurunan produksi di tingkat kebun.
Di tengah kondisi tersebut, harga karet justru menunjukkan penguatan yang signifikan.
Rata-rata harga pada Februari 2026 tercatat sebesar 193,76 sen AS/kg atau meningkat 9,49 sen dibandingkan Januari.
Tren penguatan ini berlanjut hingga akhir Maret, dengan harga penutupan pada 27 Maret 2026 mencapai 200,3 sen AS/kg.
Kenaikan harga ini tidak terlepas dari dinamika global, termasuk krisis energi yang mendorong kenaikan biaya produksi karet sintetis berbasis petrokimia sehingga meningkatkan daya tarik karet alam sebagai substitusi.
Secara keseluruhan, meskipun harga menunjukkan tren positif, kinerja ekspor karet Sumut masih berada dalam fase konsolidasi.
Kombinasi antara permintaan global yang belum optimal, gangguan logistik, serta keterbatasan pasokan akibat faktor musiman menjadi tantangan utama dalam jangka pendek.
Namun demikian, penguatan harga dan mulai munculnya permintaan dari pasar non-tradisional seperti Korea Selatan memberikan sinyal awal adanya potensi perbaikan pasar ke depan. (lis)







