Medan, 5/3 (indonesiaaktual.com) –
Program 1000 Cahaya bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah menggelar Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam Cilongok, Banyumas sebagai upaya mendorong kemandirian energi dan budaya hemat listrik di lingkungan pesantren .
Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik itu berlangsung selama tiga hari, 27 Februari–1 Maret 2026.
“Kegiatan ini mempertemukan 40 perwakilan pesantren Muhammadiyah dari berbagai daerah untuk membahas langkah konkret penghematan energi hingga pemanfaatan panel surya,” ujar Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan dalam sesi pengantar lokakarya itu.
Menurut dia, lokakarya itu lahir dari kesadaran bahwa bauran energi listrik nasional masih didominasi energi fosil, sementara kontribusi energi terbarukan belum optimal.
Di sisi lain, pesantren sebagai institusi pendidikan sekaligus tempat tinggal memiliki konsumsi energi yang signifikan.
“Disinilah urgensi perubahan dimulai: dari ruang kelas, asrama, dapur, hingga masjid, ” ujar Hening Parlan.
Hening Parlan yang sekaligus pengarah Program 1000 Cahaya, menegaskan bahwa gerakan itu bukan sekadar proyek teknis pemasangan panel surya.
Tetapi, katanya adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan.
“Kita ingin membuktikan bahwa nilai amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam aksi nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” ujar Hening Parlan.
Dia menjelaskan, istilah “Cahaya Muhammadiyah” memiliki akar kolaborasi global lintas agama yang sejak 2020 mendorong transisi energi berkeadilan di lebih dari 70 negara. “Muhammadiyah tidak bergerak untuk kepentingan internal saja. Isu energi adalah isu kemanusiaan sehingga komitmen kita adalah membangun kolaborasi lintas iman untuk transisi energi yang adil dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Hening Parlan, pesantren dan masjid dipilih sebagai titik awal karena keduanya merupakan pusat pembentukan nilai. “Kalau budaya hemat energi tumbuh di pesantren, ia tidak berhenti di pagar pondok. Ia dibawa pulang oleh para santri, diajarkan ke keluarga, dan menyebar menjadi gerakan sosial,”ujarnya.
Pengarah program lainnya, Ahsan Jamet Hamidi, menyoroti kekuatan jaringan Muhammadiyah yang menjangkau hingga tingkat akar rumput. “Muhammadiyah memiliki masjid, sekolah, pesantren, dan struktur organisasi yang luas. Kalau semua bergerak bersama, hemat energi tidak lagi menjadi wacana, tetapi menjadi budaya,” ujar Ahsan Jamet Hamidi.
Dia menambahkan, banyak pengalaman lingkungan hidup yang sebenarnya telah dimiliki Muhammadiyah. “Tantangannya adalah menyusun target yang jelas dan menjadikannya gerakan terstruktur. Energi adalah pintu masuk yang strategis,”ujarnya.
Wakil Direktur 1000 Cahaya, Sudarto M. Abu Kasim, W dalam paparan kebijakan energi nasional, mengingatkan bahwa efisiensi energi bermula dari perubahan perilaku.
“Bayangkan jika satu rumah menghemat satu kWh listrik. Jika itu dilakukan 20.000 rumah, dampaknya luar biasa. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku jauh lebih menentukan,”ujar Sudarto M. Abu Kasim.
Dia juga menekankan bahwa panel surya bukan sekadar simbol modernisasi.
“Instalasi butuh perawatan, manajemen, dan pemahaman administrasi, terutama jika menggunakan sistem on-grid yang terhubung dengan PLN. Jangan sampai semangat besar, tetapi pengelolaan teknisnya lemah,”katanya.
Sudarto menegaskan pentingnya pendekatan bertahap dalam program itu.
“Mulailah dari skala kecil, misalnya penerangan masjid atau satu gedung kelas. Identifikasi dulu titik konsumsi terbesar. Jangan langsung semua,”ujarnya.
Sejumlah praktik baik dipaparkan dalam lokakarya itu.
Beberapa pesantren di Jawa Timur mampu menurunkan konsumsi listrik 15–22 persen.
Di Lamongan, efisiensi mencapai sekitar 15 persen, sementara perguruan tinggi Muhammadiyah mencatat penghematan rata-rata 8 persen.
Total sekitar 28 instalasi panel surya telah terpasang di lingkungan Muhammadiyah, mulai dari masjid hingga rumah sakit.
Mudir Pesantren Zam-Zam Cilongok, Arif Fauzi menyambut baik penyelenggaraan lokakarya itu.
“Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter peduli lingkungan,”ujarnya.
Ketua LPP2M PDM Banyumas, Dr A Sulaeman, menyebut kegiatan itu sebagai langkah strategis.
“Di tengah krisis energi dan perubahan iklim, efisiensi dan transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pesantren harus menjadi teladan,”katanya.
Diskusi juga mengemuka soal tantangan di lapangan, mulai dari biaya investasi awal panel surya, perawatan, hingga persoalan administrasi dengan PLN.
Beberapa perwakilan pesantren mengusulkan integrasi energi surya dengan program pertanian, peternakan, dan biogas untuk menopang kemandirian ekonomi pesantren. Di akhir sesi, Hening Parlan kembali mengingatkan bahwa energi matahari adalah anugerah yang melimpah.
“Tantangan kita bukan pada ketersediaannya, tetapi pada kesiapan mengelolanya. Jika direncanakan matang dan dirawat dengan baik, energi surya adalah investasi jangka panjang bagi kemandirian pesantren,”
“katanya.
Lokakarya ini diharapkan melahirkan rencana tindak lanjut konkret di masing-masing pesantren.
Dari Banyumas, gerakan kecil ini diharapkan menjalar luas dan menjadi cahaya yang menuntun pesantren menuju masa depan yang lebih hemat, mandiri, dan berkelanjutan.(lis)










