Medan, 9/3 (indonesiaaktual.com) – Upaya menjaga kelestarian bumi tidak lagi bisa dilakukan oleh kelompok tertentu saja. Tantangan krisis lingkungan menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Semangat itulah yang melatarbelakangi hadirnya program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility yang digagas Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Program itu mengusung pendekatan konservasi inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas lintas iman sebagai aktor utama dalam berbagai aksi lingkungan.
Melalui pelatihan, penguatan kapasitas, serta kerja kolaboratif komunitas, para peserta didorong untuk berperan aktif dalam edukasi lingkungan, pengelolaan limbah, hingga kampanye konservasi.
Fasilitator nasional GreenAbility, Intan Mustikasari, menegaskan bahwa program itu berangkat dari keyakinan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan upaya memperluas ruang partisipasi bagi semua orang.
“GreenAbility adalah upaya menguatkan teman-teman disabilitas lintas iman agar mereka bisa berperan aktif dalam konservasi lingkungan sekaligus memperjuangkan kesetaraan akses di masyarakat,” ujar Intan dalam dialog di RRI Pontianak, Sabtu (7/3/2026).
Program itu merupakan pengembangan dari gerakan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang sejak 2021 membangun kolaborasi lintas iman dalam isu lingkungan dan kebinekaan.
Kini, pendekatan tersebut diperluas dengan melibatkan komunitas disabilitas sebagai bagian penting dari gerakan konservasi.
Pontianak menjadi salah satu lokasi pelaksanaan GreenAbility selain Jakarta, Bojonegoro di Jawa Timur, dan Manokwari di Papua Barat.
Keempat wilayah itu dipilih karena memiliki potensi komunitas lokal yang kuat serta ruang kolaborasi lintas sektor yang terbuka.
Di Pontianak, program itu mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.
Tokoh agama, komunitas pemuda, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas disabilitas menunjukkan dukungan untuk terlibat dalam kegiatan yang akan berlangsung selama tiga tahun ke depan.
Fasilitator nasional lainnya, Windarti, mengatakan, pendekatan lintas iman menjadi salah satu kekuatan utama program tersebut.
“Melalui pendekatan lingkungan, orang tidak lagi melihat perbedaan agama atau latar belakang. Kita bertemu di ruang yang sama untuk melakukan aksi nyata menjaga bumi bersama,”ujar Windarti.
Salah satu fokus kegiatan GreenAbility di Pontianak adalah pengelolaan limbah kopi.
Kota itu dikenal memiliki budaya warung kopi yang kuat dengan ribuan kedai yang tersebar di berbagai sudut kota.
Melihat potensi tersebut, tim GreenAbility berencana menggandeng komunitas disabilitas yang telah memiliki usaha berbasis kopi untuk mengembangkan produk turunan dari limbah kopi.
Ampas kopi, misalnya, dapat diolah menjadi sabun organik ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan itu sekaligus mendorong praktik ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai.
“Usahanya sudah ada, seperti kafe yang dikelola teman-teman disabilitas. Kami ingin memperkuatnya dengan perspektif lingkungan, misalnya mengolah limbah kopi menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun organik,”ujar Windarti.
Selain pengelolaan limbah, program itu juga akan mendorong kampanye konservasi air.
Isu itu menjadi penting karena sejumlah saluran air dan parit di Pontianak mengalami masalah penyumbatan yang kerap memicu genangan dan banjir.
Melalui pelatihan dan aksi sosial, penyandang disabilitas akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan edukasi publik tentang pentingnya menjaga sumber air dan kebersihan lingkungan.
Tidak hanya fokus pada lingkungan, GreenAbility juga mengangkat isu kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas.
Program itu mendorong agar akses terhadap layanan publik, data kependudukan, serta berbagai hak sosial dapat terpenuhi secara lebih adil.
Menurut Intan, penguatan kapasitas menjadi langkah penting agar penyandang disabilitas dapat lebih percaya diri dalam menyuarakan hak-haknya.
“Kami ingin teman-teman disabilitas tidak lagi merasa minder. Mereka harus percaya diri hadir di ruang publik, menyampaikan gagasan, dan terlibat dalam perubahan sosial,”ujarnya.
Di Pontianak sendiri, jumlah penyandang disabilitas diperkirakan mencapai 800 hingga 1.000 orang.
Namun, masih banyak yang belum terdata secara resmi sehingga berpotensi tidak mendapatkan layanan yang layak.
Melalui GreenAbility, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap lahir komunitas-komunitas baru yang mampu menjadi penggerak lingkungan sekaligus memperjuangkan inklusi sosial di tingkat lokal.
“Harapan kami sederhana: tidak ada lagi stigma terhadap teman-teman disabilitas. Mereka bukan objek bantuan, tetapi mitra dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan,”ujar Intan Mustikasari.
Bagi Eco Bhinneka Muhammadiyah, keberlanjutan bumi tidak hanya ditentukan oleh upaya konservasi semata, tetapi juga oleh seberapa luas masyarakat dilibatkan dalam gerakan tersebut. Karena itu, GreenAbility membawa pesan sederhana namun kuat: menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, dan masa depan yang berkelanjutan hanya mungkin tercapai ketika tidak ada satu pun yang tertinggal. (lis)










