Medan, 23/4 (indonesiaaktual.com) – PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kini memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan daya saing industri.
“Kenaikan biaya energi dan meningkatnya tekana operasional mendorong pelaku industri mencari strategi efisiensi yang lebih berkelanjutan,” ujar Direktur Sales & Marketing PT Wahana Safety Indonesia (WSI) Fransiskus B Hermanto di Medan, Kamis (23/4).
Oleh karena itu, katanya, K3 memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan daya saing industri.
Fransiskus B Hermanto mengatakan itu dalam Seminar bertajuk “Penguatan Budaya K3 dalam Pengelolaan Risiko Bahan Kimia di Industri” yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan itu dihadiri lebih dari 400 peserta dari berbagai sektor industri di wilayah Sumatera Utara.
Dia mengatakan, WSI melihat bahwa volatilitas harga bahan bakar minyak (BBM) memberikan dampak langsung terhadap biaya logistik, produksi, hingga distribusi.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan efisiensi berbasis pengurangan biaya semata, melainkan perlu mengoptimalkan sistem operasional secara menyeluruh.
Fransiskus menegaskan bahwa K3 merupakan salah satu faktor kunci yang sering kali belum dimaksimaikan oleh perusahaan.
“Banyak perusahaan masih melihat K3 sebagai cost center, padahal dalam praktiknya K3 justru menjadi salah satu driver efisiensi terbesar. Satu insiden saja dapat menghentikan operasional dan menimbulkan kerugian berlipat, mulai dari downtime produksi hingga biaya kompensasi,” ujarnya.
Menurut Fransiskus, kecelakaan kerja tidak hanya berdampak pada keselamatan tenaga kerja, tetapi juga memicu berbagai biaya tidak langsung seperti gangguan produksi, penurunan produktivitas, hingga risiko reputasi perusahaan.
Oleh karena itu, implementasi K3 yang tepat dapat menjadi langkah preventif yang berdampak langsung pada efisiensi operasional.
Implementasi K3 yang optimal dinilai mampu menjaga kontinuitas operasional, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mengurangi potensi kerugian finansial . Serta menciptakan sistem kerja yang lebih efisien dan terukur.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, WSI terus mendorong implementasi Gerakan Keselamatan Nasional (#MulaiDariSaya) yang mengedepankan perubahan paradigma terhadap K3.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam memperkuat penerapan K3 di berbagai sektor. Menurut dia, peningkatan standar keselamatan kerja menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan dan berdaya saing. Untuk itu, ujar dia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mendorong seluruh perusahaan dan industri untuk segera menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), dalam lingkungan kerja untuk menjaga keselamatan pekerjanya.
Yuliani mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih ke PT Wahana Safety Indonesia, yang sudah memfasilitasi kegiatan K3 itu.
“Terima kasih ke WSI yang sudah memfasilitasi acara budaya K3 dalam pengelolaan resiko terhadap bahan-bahan kimia industri ini” ujar Yuliani.
Yuliani menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dalam memperkuat penerapan K3 di berbagai sektor. Peningkatan standar keselamatan kerja, katanya, menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan dan berdaya saing.
“K3 harus dilaksanakan oleh semua industri. Disnaker akan melakukan evaluasi ke perusahaan atas, penerapan sistem manajemen K3 ini.Semua perusahaan khususnya di kawasan industri akan dicek dan dievaluasi lagi dengan tujuan untuk kepentingan bersama, pekerja, perusahaan dan pemerintah”katanya.
Apalagi, ujar Yuliani, berdasarkan informasi Balai K3, Sumatera Utara sudah ‘lampu merah.
“Jangan ketika ada kecelakaan kerja dan lain-lain baru heboh menjalankan sistem manajemen K3,” ujarnya. (lis)








