Medan, 19/9 (indonesiaaktualcom) – Produktivitas menjadi pekerjaan rumah utama perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Saat kebun perusahaan mampu menghasilkan sekitar 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, kebun rakyat rata-rata baru mencapai 12–15 ton.
Kesenjangan tersebut mendorong Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)–PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), memperkuat kompetensi pekebun melalui Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.
Sebanyak 126 pekebun Simalungun Sumut mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit pada 13–19 September 2026 di Medan.
Pelatihan tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Peserta juga mengikuti field trip ke Kebun Adolina PTPN IV Regional 2 untuk melihat langsung penerapan teknik budidaya dan pengelolaan kebun.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, mengatakan, luas perkebunan sawit rakyat di daerahnya mencapai sekitar 38.905,5 hektare dengan produksi 317.771 ton TBS.
Menurut dia, peningkatan produktivitas menjadi pilihan penting karena peluang perluasan areal semakin terbatas.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan perluasan areal. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kebun yang sudah ada bisa menghasilkan lebih tinggi. Produktivitas sawit rakyat masih jauh di bawah perkebunan perusahaan, dan kesenjangan inilah yang harus kita kejar melalui perbaikan budidaya dan penerapan teknologi,” katanya saat membuka pelatihan, Minggu (13/9/2026).
Jenri mendorong pekebun menerapkan good agricultural practices (GAP) secara konsisten, mulai dari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, hama dan penyakit, pemeliharaan tanaman hingga panen yang tepat.
Dia menegaskan, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari sertifikat yang dibawa pulang, tetapi dari perubahan cara pekebun mengelola kebunnya.
“Kalau pulang dari sini, namun tidak mengubah cara teknis budidaya, yang kita dapat hanya cerita bahwa kita pernah menginap di Hotel Polonia, Medan. Tetapi yang harus dibawa pulang adalah perubahan cara mengelola kebun,”ujarnya.
#Teknologi Harus Berujung Perubahan#
Manager Urusan Pelayanan Jasa Konsultasi PPKS–RPN, D Agus Eko Prasetyo, mengatakan, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan.
Teknologi dan hasil riset harus diterapkan sesuai dengan kondisi kebun.
“Jangan berhenti pada ilmu pengetahuan. Jangan hanya hadir mengikuti pelatihan, mendapatkan materi dan sertifikat. Informasi dan teknologi yang diberikan silakan dipilih mana yang relevan dan cocok digunakan di kebun masing-masing, kemudian diterapkan,” katanya.
Menurut Agus, keberhasilan transfer teknologi baru terlihat ketika pengetahuan yang diperoleh mampu menghasilkan perubahan nyata di lapangan.
Dia juga berharap 126 peserta tidak berhenti sebagai penerima pengetahuan, tetapi menjadi penggerak yang menularkan ilmu kepada kelompok tani dan pekebun lainnya di Simalungun.
Dengan pola tersebut, dampak pelatihan diharapkan tidak berhenti pada 126 peserta, tetapi berkembang menjadi efek berantai di tingkat kelompok tani.
#Salah Pilih Bibit, Dampaknya Bertahun-tahun#
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, M Yusuf Lubis, SP, SE, menekankan pentingnya penggunaan bahan tanam berkualitas.
Menurut Yusuf, kesalahan memilih bibit tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat karena dampaknya baru terlihat ketika tanaman mulai menghasilkan.
“Jangan tanam sekarang, lima tahun kemudian gagal. Sudah capek menunggu, sudah lama menunggu, ternyata hasilnya tidak memuaskan,”ujarnya.
Oleh karena itu, katanya, pekebun diminta memastikan asal-usul dan kualitas bibit, terutama untuk penanaman baru maupun peremajaan.
Peningkatan kompetensi juga perlu berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan bantuan sarana produksi.
#Kunjungan ke Kebun Adolina Jadi Bagian Penting Dari Pembelajaran#
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Jenri Saragih, mengatakan peserta yang dibawa ke Kebun Adolina PTPN IV Regional 2 dapat melihat langsung praktik budidaya di lapangan sekaligus membandingkannya dengan kondisi kebun yang dikelola pekebun.
“Meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk pasar domestik, termasuk sektor energi, perlu diimbangi dengan kemampuan kebun menghasilkan TBS secara lebih produktif dan efisien.Jadi pekebun harus belajar, ” katanya.
Karena itu, ujar Jenri, pekebun tidak cukup hanya berorientasi pada harga TBS dan crude palm oil (CPO), tetapi juga perlu memperkuat produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan penerapan teknologi.
“Harapan kami, ketika datang ke sini 126 orang, nanti pulang menjadi 127 orang atau lebih,” katanya.
Sinergi RPN, BPDP, Ditjenbun, pemerintah provinsi dan Kabupaten Simalungun melalui SDMP 2026 diharapkan mempercepat transfer teknologi sekaligus memperkuat kemampuan pekebun.
Program tersebut juga diharapkan berlanjut. Simalungun disebut masih mendapatkan alokasi sekitar 330 peserta pelatihan pada 2027.
Ujung dari investasi SDM tersebut diharapkan sederhana tetapi berdampak besar dengan kebun lebih produktif, TBS lebih berkualitas, biaya lebih efisien, dan pendapatan pekebun meningkat. (lis)








