Medan, 30/10 (indonesiaaktual.com) –
Asian Agri, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka di Indonesia, dan juga produsen benih unggul kelapa sawit, menampilkan benih DxP Topaz dalam 10th Indonesian
Palm Oil Stakeholders Forum (IPOS-FORUM) di Hotel Santika Dyandra Premier Convention Center, Medan, Sumatra Utara.
Keikutsertaan perusahaan dalam IPOS FORUM di Medan, Kamis -Jumat, 30 -31 Oktober 2025 menjadi bukti nyata komitmen Asian Agri terhadap pengembangan varietas kelapa sawit unggul melalui pendekatan ilmiah yang berkelanjutan, varietas yang produktif, tahan penyakit, serta teruji secara statistic.
Keikutsertan itu juga sekaligus wujud mendukung pemberdayaan petani sawit di Indonesia.
Head of Plant Breeding
Asian Agri, Yopy Dedywiryanto yang menjadi salah satu pembicara di IPOS-Forum, Kamis (30/10/2025) mengungkapkan bahwa hingga saat ini lebih dari 200 juta kecambah Topaz telah ditanam di dalam negeri maupun luar negeri.
“Hal itu mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan dan permintaan terhadap bibit Topaz, sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Asian Agri dalam menghadirkan solusi terbaik bagi pelanggan,”katanya.
Yopy Dedywiryanto menyebutkan, benih Topaz yang diproduksi saat ini merupakan benih yang telah teruji dan terbukti mampu menghasilkan produksi hingga 24 ton tandan buah segar (TBS)/hektare pada tahun pertama,.
Sementara pada masa tanaman menghasilkan tahun ketiga hingga tahun keenam, produktivitas rata-rata mencapai 38 ton TBS/hektare.
Dengan rendemen minyak sekitar 28%, potensi produksi Crude Palm Oil (CPO) bahkan dapat menembus lebih dari 10 ton/hektare.
Selain itu, Asian Agri juga mengembangkan varietas Topaz GT, yaitu kecambah unggul yang memiliki tingkat toleransi lebih tinggi terhadap penyakit Ganoderma.
Pengujian varietas ini dilakukan menggunakan isolat Ganoderma paling agresif yang dimiliki oleh Oil Palm Research Station (OPRS) Topaz. Dengan demikian, petani memperoleh kepastian bahwa Topaz GT memiliki ketahanan lebih baik terhadap serangan Ganoderma, yang merupakan salah satu ancaman utama bagi perkebunan kelapa sawit.
Yopy menjelaskan, varietas Topaz 1 menjadi pilihan unggulan bagi para petani karena mampu menghasilkan jumlah tandan yang banyak serta bobot tandan yang berat.
DIa juga meluruskan informasi yang beredar mengenai rendahnya kandungan minyak pada Topaz 1 berwarna oranye, yang menurutnya tidak benar. “Berdasarkan hasil pengujian terhadap ribuan tandan dan ribuan pokok, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara buah berwarna oranye dan merah,” katanya.
Bahkan, buah oranye dari Topaz 1 cenderung memiliki tonase TBS yang lebih tinggi dibandingkan buah merah.
“Tanam kecambah unggul Topaz, rawat dengan baik, dijamin petani puas dan pasti naik kelas,” katanya.
Kehadiran bibit unggul itu memberikan peluang besar bagi petani kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas kebun, memperoleh hasil panen yang lebih stabil, serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
Pendekatan itu turut mendorong keberlanjutan perkebunan kelapa sawit.
Penggunaan bibit yang produktif dan tahan terhadap penyakit dapat mengurangi potensi kerugian akibat serangan penyakit serta meminimalkan tekanan terhadap perluasan lahan.
Dengan demikian, inovasi dalam pengembangan bibit unggul berperan penting dalam mendukung praktik agronomi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, upaya itu juga memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional dengan memastikan pasokan bahan baku yang stabil, berkualitas, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi bagian dari kontribusi sektor perkebunan menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045 yang mandiri, berdaya saing, dan berketahanan iklim.
Bibit Topaz tersedia melalui hotline Topaz di 0823 1177 4500 atau email topaz@asianagri.com. Harga varietas Topaz 1, 2, dan 3 adalah Rp9.500 per kecambah, sementara Topaz GT Rp 19.000 per kecambah. (lis)










