Medan, 30/10 (indonesiaaktual.com) – Ternyata, distribusi energi di dalam negeri tidak sesederhana yang difikirkan konsumen. Misalnya, ada para pelaut Pertamina International Shipping (PIS) yang berjuang di laut untuk bisa menghantarkan, memastikan energi tersalur ke seluruh penjuru negeri.
Bukan hanya memastikan energi itu sampai, mereka juga berupaya memastikan energi tersebut tiba secara aman dan bahkan tepat waktu.
Kisah tiga pelaut PIS yakni Captain Andhika Dwi Cahyo Kumolo, Captain Adi Nugroho, dan Eka Retno Ardianti menjadi bukti betapa tidak sederhana/mudahnya energi itu sampai ke tangan konsumen di penjuru negeri Indonesia.
Meski berbeda kisah karena berbagai faktor, termasuk masa bekerja di kapal, cerita ketiga pelaut PIS itu sama-sama menyiratkan tentang kekhawatiran, tantangan, ketangguhan, kerinduan dengan keluarga saat berlayar.
Hingga kelegaan, dan rasa syukur ketika kapal berhasil berlabuh membawa energi di penjuru negeri.
Tanpa banyak yang tau, di balik energi yang sudah tersebar ke penjuru negeri untuk banyak hal, ada para pelaut tangguh, handal yang punya keinginan sama untuk menjaga, mendistribusikan energi di penjuru negeri.
//Ketangguhan Pelaut//
Captain Andhika Dwi Cahyo Kumolo bercerita bagaimana dirinya bersama kru pernah dilanda ketakutan, tapi harus bertahan dengan tangguh saat ombak setinggi 9 meter mengguncang kapal pembawa energi itu tanpa henti.
“Ketangguhan kami diuji di tengah menjalankan misi energi,”ujar Andhika.
Ada pun Captain Adi Nugroho, menyebutkan selain cuaca ekstrem, bahaya di pelayaran lainnya adalah serangan perompak.
Untuk itu, katanya, kewaspadaan paling utama dilakukan, termasuk ketangguhan untuk melawan sesuai standar pengamanan perusahaan. “Semua dijalankan sesuai aturan,” katanya.
Eka Retno Ardianti, pelaut wanita itu juga mengaku banyak ancaman di atas kapal.
Mulai ombak tinggi , ancaman perompak di laut lepas. “Tetapi semua ketakutan/kekhawatiran tertekan demi misi energi.Begitu kapal berlabuh, apalagi tepat waktu, rasanya plong,” ujarnya.
Dia pun menyadari, sebagai pelaut wanita di industri yang didominasi pria, tantangan terbesar dia adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang menuntut fisik dan mental yang kuat, serta membuktikan kemampuan secara konsisten.
Namun, tantangan itu menjadi peluang untuk menunjukkan profesionalisme, ketekunan, dan kepemimpinan perempuan di kapal. Untuk mencapai posisi Third Officer, dia mengaku menempuh pendidikan Diploma III di Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang, kemudian melanjutkan berbagai pelatihan dan sertifikasi kompetensi pelaut internasional.
“Saya memiliki Certificate of Competency ANT II dan Endorsement ANT II yang diterbitkan di Jakarta pada Juni 2024 sebagai syarat utama untuk menjabat perwira navigasi,” katanya.
Keahliannya yang ditandai dengan berbagai Certificate of Proficiency seperti Basic Safety Training, Advanced Fire Fighting, Medical First Aid, Bridge Resource Management, ECDIS, Radar & ARPA Simulator, serta pelatihan lanjutan untuk Oil, Chemical, dan Liquefied Gas Tanker Operations, membuat dia semakin memahami karakteristik kargo berisiko tinggi dan menjaga keselamatan operasi di kapal tanker.
Pengalaman langsung melalui penugasan di berbagai kapal tanker milik PIS dan PTK, mulai dari MT Transko Bima, MT Patra Tanker 2 dan 3, hingga MT Karmila dan MT Musi, yang memberikan pemahaman praktis tentang navigasi, manuver, serta manajemen kargo itupun semakin membuat Eka semakin matang dalam menjalankan misi energi.
“Selain pengalaman dan pendidikan, saya juga mendapat dukungan dari PIS yang mendorong peningkatan peran perempuan di industri maritim,” katanya.
Melalui komunitas Pertiwi di bawah Sub Holding Integrated Marine Logistics (SH IML), PIS menjalankan berbagai program untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan ramah perempuan. “Kebijakan itu sangat membantu saya dan rekan-rekan pelaut perempuan untuk terus berkembang, berdaya saing, dan berkontribusi di sektor yang selama ini didominasi laki-laki,”katanya.
//PIS Dukung Ketangguhan Pelaut//
Corporate Secretary PIS Muhammad Baron, dalam keterangannya yang diterima di Medan, , Rabu (29/10/2025) menyebutkan
PIS senantiasa berkomitmen membantu PT Pertamina (Persero) dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Dia mengakui, pelaut, sebagai garda terdepan operasional PIS, memegang peran krusial dalam mencapai tujuan tersebut.
Pada dasarnya, kata dia, para pelaut tersebut yang menjadi ujung tombak PIS dalam pengangkutan energi seperti minyak mentah, gas, produk energi lainnya, hingga produk non-energi, baik di perairan domestik maupun internasional, secara aman dan tepat waktu.
Pelaut juga yang menerapkan praktik operasi yang efisien dan ramah lingkungan, dengan senantiasa meminimalisasi risiko kerusakan kargo atau gangguan pasokan, sehingga energi dapat tersalurkan secara andal untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
//Kinerja Positip PIS//
PIS tahu betul, untuk kelancaran distribusi energi, diperlukan banyak pelaut handal.
PIS saat ini didukung oleh 2.523 pelaut aktif yang tersebar di berbagai armada global. PIS mencatat pencapaian zero fatality dan 40,5 juta jam kerja aman, hasil dari transformasi berkelanjutan yang dilakukan perusahaan.
PIS memiliki 50 rute dan memiliki kantor cabang di Singapura, Dubai, dan London.
“Dari total 106 kapal milik PIS, sebanyak 58 kapal meraih skor sangat baik dalam Ship Inspection Report (SIRE), dan telah lulus inspeksi dari berbagai perusahaan migas internasional terkemuka,”ujar Baron. Pada tahun lalu PIS mendistribusikan 161 miliar liter minyak produk BBM, dan LPG ke seluruh penjuru Indonesia dan mancanegara.
“Tanpa dukungan khususnya pelaut, kinerja PIS tentu saja tak optimal, katanya.
Padahal negeri perlu energi yang bukan saja untuk kebutuhan pribadi konsumen, tetapi juga menggerakkan perekonomian bangsa Indonesia. (lis)










