Medan, 31/10 (indonesiaaktual.com) – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN),
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian menyiapkan 85 pekebun asal
Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, Sumut menjadi agen perubahan pupuk organik.
Harapan itu setelah pekebun itu mengikuti pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik di Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar PT RPN, BPDP dan Ditjenbun Kementerian Pertanian di Medan pada 26-30 Oktober 2026.
Peserta pelatihan terdiri dari 54 pekebun asal Labuhanbatu Selatan dan 31 pekebun dari Batubara.
“Pelatihan tidak boleh berhenti pada peserta yang hadir di ruang kelas. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh harus ditularkan kepada pekebun lain agar manfaatnya semakin luas. Inilah yang diharapkan dari 85 pekebun asal Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, Sumut yang mengikuti pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik, “ujar Kepala Bagian Bidang Usaha Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) PT RPN, Dr Fandi Hidayat di Medan, Jumat (30/10).
Pelatihan itu membekali pekebun dengan keterampilan mengolah bahan organik menjadi pupuk hingga teknik aplikasinya di kebun.
Dia menjelaskan, untuk efektif, para peserta dipilih dari perwakilan pekebun dan pengurus kelompok yang diharapkan menjadi penggerak perubahan di lingkungan masing-masing.
“Mereka tidak hanya dituntut mampu menerapkan pengetahuan secara mandiri, tetapi juga menularkan keterampilan tersebut kepada anggota kelompok tani lainnya, “ujarnya.
Fandi Hidayat mengatakan, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga sejauh mana pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dan disebarluaskan setelah kegiatan selesai.
Menurut dia, pemanfaatan bahan organik merupakan salah satu keterampilan penting dalam mendukung pengelolaan perkebunan. Selain menjadi sumber hara, bahan organik dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah dan mendukung produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
“Pengelolaan kesuburan tanah melalui pemanfaatan bahan organik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung produktivitas perkebunan. Karena itu, pekebun perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah bahan organik menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman,” ujarnya.
Fandi berharap peserta mampu mempraktikkan pengetahuan tersebut secara mandiri sekaligus membagikannya kepada anggota kelompok tani. Dengan demikian, katanya, keterampilan yang diperoleh dapat berkembang menjadi praktik baru dalam pengelolaan kebun rakyat.
Untuk memperkuat pembelajaran, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke CV Manis Sportif di Kabupaten Deli Serdang, Sumut.
Kegiatan itu memberikan pengalaman langsung sekaligus memperluas wawasan
Dia berharap, dari satu peserta diharapkan lahir banyak pekebun yang lebih mandiri, terampil, dan mampu menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batubara, Nanda Fadhillah Akbar, SP, MSi, mengatakan peserta pelatihan merupakan perwakilan pengurus kelompok dan kelembagaan pekebun.
Oleh karena itu, katanya, mereka memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh.
Dia berharap peserta tidak hanya menerapkan keterampilan secara individu, tetapi juga mengajak anggota kelompok lainnya untuk belajar dan mempraktikkan pembuatan serta penggunaan pupuk organik.
“Kami berharap sekembali dari pelatihan ini, ilmu yang diperoleh dapat diaplikasikan di lingkungan lembaga pekebun masing-masing. Peserta bisa saling berkolaborasi dan mengimplementasikan materi yang diberikan sehingga kelembagaan pekebun semakin kuat,” ujarnya.
Nanda menambahkan, penguatan kapasitas pekebun juga penting untuk mempersiapkan kelembagaan menghadapi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Kabupaten Batubara sendiri telah memiliki lembaga pekebun yang memperoleh sertifikasi ISPO dan menjalankan proses audit keberlanjutan selama kurang lebih tiga tahun.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sabrina Pulungan, SP, menekankan pentingnya keberlanjutan pembelajaran setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.
“Diharapkan melalui pelatihan ini, bapak dan Ibu peserta terus berinovasi untuk mewujudkan kemandirian serta mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti pada peserta, melainkan dibagikan kepada kelompok tani dan masyarakat di daerah masing-masing,” ujarnya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumut, Muhammad Yusuf Lubis, SP, SE, berharap peserta dapat menyerap materi secara optimal dan menerapkannya untuk meningkatkan produktivitas perkebunan.
Melalui kolaborasi PT RPN, BPDP, dan Ditjenbun dalam Program SDMP 2026, pelatihan ini, katanya, diharapkan melahirkan pekebun yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu menjadi sumber pengetahuan bagi komunitasnya.
Keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya dilihat dari 85 pekebun yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari seberapa luas ilmu tersebut ditularkan.(lis)









