Medan, 17/4 (indonesiaaktual.com) – PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersinergi menjalin kerja sama bisnis yang dituangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk pembangunan, pemanfaatan infrastruktur, dan moda pengangkutan maritim untuk produk terkait bahan bakar rendah karbon.
Kedua Subholding Pertamina itu menunjukkan langkah besar menuju masa depan energi yang rendah emisi.
MoU ditandatangani Direktur Utama PIS Surya Tri Harto dan Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto pada Jumat pekan lalu. Turut hadir Direktur Perencanaan Bisnis PIS Eka Suhendra, Direktur Armada PIS M Irfan Zainul Fikri, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra, serta jajaran manajemen lainnya.
“Pada kerjasama ini kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya untuk PIS atau PGN,” ujar Direktur Utama PIS Surya Tri Harto di Jakarta, Jumat lalu.
Dengan rencana memiliki infrastruktur transportasi gas, termasuk untuk floating (terapung), katanya, mereka mencoba kaji opsi investasi, supaya dalam jangka panjang tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar.
“Sekali lagi untuk sama-sama ciptakan value yang optimal bagi Pertamina,”ujar Surya.
Kerja sama itu menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antarsubholding Pertamina Group, sekaligus mendorong penguatan armada dan diversifikasi kargo guna mendukung ketahanan energi nasional.
Direktur Utama PGN Arief Kurnia Risdianto mengatakan, kerjasama itu merupakan pengembangan dari kerjasama PIS dan PGN yang telah berjalan sebelumnya.
Dimana sejak 2024, PIS telah mengangkut sebanyak 17 kali angkutan LNG untuk PGN ke FSRU Lampung & Jawa Barat, serta Terminal Arun dengan skema spot charter.
“Kerjasama yang terjalin kita eskalasi, kembangkan yang pada prinsipnya mencakup pengembangan kepemilikan, pembangunan, pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas. Sehingga Pertamina Group memiliki infrastuktur yang matang dan menyiapkan Indonesia di era LNG,”katanya.
Dia menyebutkab, semakin ke depan, porsi LNG akan semakin besar, sehingga perlu infrastruktur tambahan. *Kita coba kembangkan, sehingga nanti kita tidak hanya jadi penonton, tapi juga ada kepemilikan di infrastruktur ini,”ujarnya.
Ke depan, kerja sama mencakup pengembangan pengangkutan, penguatan armada, serta peluang pada komoditas energi rendah karbon seperti LNG, amonia dan hidrogen beserta infrastruktur pendukungnya, akan ditindaklanjuti melalui pembentukan tim kerja untuk menjajaki proyek konkret dan skema kerja sama jangka panjang. Kerja sama itu diyakini akan memperkuat sinergi Pertamina Group dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Sinergi itu juga diharapkan dapat memperkuat peran Pertamina Group sebagai penyedia solusi energi yang efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan. (lis)








