Medan, 13/6 (indonesiaaktual) – Generasi Z dan Generasi Alpha diminta ikut mengambil peran sebagai pelaku perubahan melalui inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata dalam menghadapi krisis energi dan perubahan iklim.
“Jangan hanya menjadi penonton dalam menghadapi perubahan iklim, karena peran generasi muda sangat besar untuk menghadapi krisis energi dan akan sangat menentukan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada masa depan generasi muda,” ujar Tokoh Masyarakat Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Ketenagalistrikan, Riki F. Ibrahim, Sabtu (13/6).
Dia mengatakan itu saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Clean Energy Goes Viral: Gen-Z dalam Transisi Energi”.
Generasi muda,bisa berperan melalui inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata. Riki mengatakan, dunia saat ini tengah menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya emisi karbon dari penggunaan energi fosil, dampak perubahan iklim yang semakin nyata, serta ketidakpastian pasokan energi global yang turut memengaruhi berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Kita harus memahami bahwa persoalan energi bukan hanya tantangan Indonesia, tetapi isu global,” ujar Riki. Berbagai faktor geopolitik energi dunia turut memengaruhi ketersediaan dan harga energi di banyak negara.
Dia menegaskan kembali, tantangan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari generasi muda karena akan sangat menentukan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada masa depan.
Dia menjelaskan, kebutuhan energi nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Namun di sisi lain, kemampuan produksi energi fosil dalam negeri semakin terbatas sehingga ketergantungan terhadap impor energi terus meningkat.
“Kita melihat impor energi terus meningkat sementara kemampuan produksi dalam negeri tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan. Ketergantungan terhadap energi fosil membuat kita semakin bergantung pada pasokan dari luar negeri,”katanya.
Dia menyebutkan, kondisi serupa juga terjadi pada kebutuhan LPG yang sebagian masih harus dipenuhi melalui impor.
Menurut Riki, ketergantungan tersebut berdampak langsung terhadap beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama ketika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Namun Riki optimistis Indonesia memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan tersebut.
Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia juga didukung bonus demografi dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.
Jumlah penduduk yang besar merupakan tantangan sekaligus peluang. “Kita memiliki sumber daya manusia yang besar untuk mendorong inovasi dan perubahan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Riki menilai percepatan pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Riki mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam mendukung transisi energi.
Namun, menurut dia, keberhasilan transisi energi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan dunia usaha.
Dia mengajak generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam berbagai inovasi dan gerakan yang mendukung energi bersih serta pelestarian lingkungan.
Webinar tersebut mendapat dukungan dari PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, yang terus mendorong penerapan prinsip keberlanjutan melalui berbagai program efisiensi energi dan pemanfaatan energi ramah lingkungan.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, PTAR telah membangun instalasi panel surya berkapasitas 2 Megawatt Peak (MWp) di area operasional Tambang Emas Martabe sejak 2022.
Instalasi tersebut tersebar di 42 bangunan dan menjadi salah satu upaya perusahaan dalam meningkatkan penggunaan energi bersih.
Selain itu, PTAR juga mengoperasikan excavator hybrid ramah lingkungan yang mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 17 persen serta mengurangi emisi karbon.
Pada 2024, perusahaan menggunakan 275 Megawatt hour (MWh) listrik energi baru terbarukan melalui Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN dan mulai menerapkan bahan bakar B40 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Berbagai inovasi efisiensi energi lainnya juga terus diterapkan, termasuk teknologi pemulihan energi pada proses pengolahan bijih serta pemanfaatan kembali minyak pelumas bekas melalui teknologi hypobaric fraction separator yang mampu mengurangi potensi emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan generasi muda, transisi menuju energi bersih diharapkan dapat berjalan lebih cepat sehingga Indonesia mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mencapai target pembangunan berkelanjutan di masa depan. (lis)







