Medan, 26/11 (indonesiaaktual.com) – Bajaj Maxride sudah beroperasi satu tahun di Kota Medan, Sumut dan langsung memberi dampak positif untuk kelancaran mobilitas, peningkatan ekonomi dan menekan angka pengangguran
“Mengusung konsep transportasi urban berbasis aplikasi dengan armada Bajaj roda tiga mampu menampung hingga tiga penumpang, Maxride berperan dalam membantu mengurangi kepadatan kendaraan yang selama ini didominasi sepeda motor berkapasitas satu penumpang,”ujar Head of Maxride Indonesia Ricky di Medan, Selasa (25/11/2025).
Maxride misalnya sudah memperkerjakan1.500 driver (supir) di Medan sehingga membantu menekan angka pengangguran.
Dia menyebutkan, Kota Medan saat ini menghadapi dua tantangan dalam pembangunan perkotaan.
Angka pengangguran yang masih tinggi serta tingkat kemacetan yang terus meningkat. Berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Medan mencapai 8,13% pada Agustus 2024, dan Sumut mencatat 448 ribu pengangguran pada Agustus 2025, dengan TPT 5,32%.
Di sisi lain, berdasarkan TomTom Traffic Index 2025, Medan menempati peringkat kedua kota termacet di Indonesia, dengan waktu tempuh rata-rata 32 menit untuk jarak 10 km akibat tingkat kemacetan mencapai 40%.
“Di tengah tantangan tersebut, kehadiran Bajaj Maxride selama satu tahun terakhir menjadi salah satu solusi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat,”ujar Ricky.
Dia menuturkan, para mitra driver menikmati pendapatan stabil hingga Rp900.000 per minggu.
Pendapatan yang bagus itu akhirnya mendorong sebagian driver menjadi pemilik.
“Bisnis bajaj yang masih menggiurkan itu juga mendorong puluhan pengusaha lokal menjadi ‘Juragan” alias membeli puluhan unit bajaj untuk dibisniskan,”ujarnya.
Para pengusaha melihat peluang investasi berprofit tinggi dengan risiko relatif rendah di bisnis Maxride.
Antusiasme masyarakat Medan juga tercermin dari pertumbuhan pengguna.
Hingga 2025, aplikasi Maxride telah digunakan oleh lebih dari 600.000 warga, dengan total jarak operasional mencapai 350.000 kilometer yang ditempuh armada bajaj selama melayani kebutuhan mobilitas harian.
“Selain itu, terbentuknya lima komunitas driver aktif—Paguyuban Merah Putih, BSM, Porbaksu, GBR, dan FKBS yang menunjukkan kuatnya ekosistem dan solidaritas mitra Maxride di Kota Medan, ” katanya.
Seluruh pencapaian itu menegaskan peran Bajaj Maxride sebagai penyedia solusi transportasi digital yang adaptif dan berdampak. Hal ini selaras dengan harapan yang pernah disampaikan Wakil Wali Kota Medan sebelumnya, Aulia Rahman.
Aulia menekankan pentingnya kehadiran Bajaj Maxride untuk memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Satu tahun setelah pernyataan tersebut, data di lapangan membuktikan bahwa layanan itu telah menjadi bagian dari solusi mobilitas sekaligus penggerak ekonomi baru di Kota Medan.
“Maxride Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperluas dampak sosial, dan menghadirkan inovasi transportasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat urban Medan ke depan,” katanya.
City Manager Maxride, Herry menyebutkan, saat ini jumlah armada Maxride masih memungkinkan untuk dikembangkan di Medan.
Alasannya, potensi penumpang Maxride masih cukup besar dan driver juga masih mendapatkan pendapatan yang memadai.
“Masih ada peluag berinvestasi di Maxride dan tentunya perusahaan tetap melihat keseimbangan antara jumlah penumpang dan armada agar semua termasuk driver dan juragan Maxride tetap untung dalam usaha itu,” katanya.
Salah satu driver yang kini menjadi pemilik bajaj Maxride, Simson menyebutkan, setelah sempat mencari pekerjaan di Batam, dia kembali ke Medan untuk menjadi driver Maxride.
Bekerja beberapa lama dan mendapat pendapatan lumayan bagus, dia pun membeli satu unit bajaj untuk dikemudikannya sendiri.
“Minat penumpang cukup bagus sehingga pendapatan memadai,” katanya.
Dia pun memberi tips untuk para driver agar mendapat penumpang banyak.
“Konsisten dengan jam kerja, melayani dengan baik dan berserah kepada Tuhan,” katanya.
Juragan Murni mengaku melihat potensi besar di bisnis Maxride itu sejak awal, sehingga dia membeli beberapa unit.
“Karena merasakan bisnis di bajaj itu cukup menjanjikan, saya terus membeli hingga puluhan unit dan bahkan menjadi dealer Bajaj Maxride itu di Tanjung Morawa, Deliserdang Sumut, ” katanya. (lis)










