Medan, 27/4 (indonesiaaktual.com) – Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia meluncurkan kampanye bertajuk “No Forests, No Future”, sebuah gerakan moral lintas iman yang menegaskan keterkaitan erat antara keberlangsungan hutan tropis dan masa depan manusia.
Peluncuran itu menjadi penanda dimulainya fase ketiga IRI Indonesia (2025–2029) sekaligus momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan hutan dan masyarakat adat.
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Econusa, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat 17 April 2026, dihadiri tokoh agama, organisasi masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, serta perwakilan generasi muda.
“Forum ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang konsolidasi gagasan dan komitmen bersama untuk merespons krisis hutan yang kian mendesak,” ujar Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan di Jakarta pada acara itu.
Dia menegaskan bahwa kampanye itu hadir sebagai respons atas meningkatnya tekanan terhadap hutan tropis Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
“Hutan, bukan sekadar bentang alam, ia menjaga air yang kita minum, menstabilkan iklim, dan menopang kehidupan masyarakat adat. Jika hutan hilang, maka masa depan juga ikut hilang,” ujar Hening.
Menurut dia, selama ini pendekatan perlindungan hutan lebih banyak bertumpu pada aspek teknokratis, sementara dimensi moral dan nilai belum dimaksimalkan sebagai kekuatan perubahan.
Dengan lebih dari 90 persen penduduk Indonesia memeluk agama, Hening menilai terdapat potensi besar untuk mendorong kesadaran kolektif melalui pendekatan berbasis nilai.
“Ini adalah kekuatan moral yang sangat besar. Tapi kekuatan itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ia harus menjadi gerakan bersama,”katanya.
//Gerakan Moral dan Tantangan Nyata di Lapangan//
Peluncuran kampanye itu tidak terlepas dari kondisi hutan Indonesia yang terus tertekan akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, pembalakan, hingga pembangunan skala besar.
Laju deforestasi yang tinggi tidak hanya berdampak pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga mempercepat krisis iklim dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat.
Dalam forum tersebut, berbagai tokoh lintas agama menegaskan bahwa persoalan hutan bukan semata isu lingkungan, melainkan juga menyangkut keadilan sosial dan tanggung jawab moral.
Perwakilan advisory council IRI Indonesia, M Ali Yusuf, menyebut bahwa kekuatan agama, masyarakat adat, akademisi, dan organisasi sipil perlu disatukan dalam satu gerakan yang solid.
“IRI ingin mengakselerasi perlindungan hutan tropis dengan menghimpun kekuatan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Ini adalah gerakan bersama,”ujarnya.
Sementara itu, Dr. Fachruddin Mangunjaya, Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS sekaligus advisory Council IRI dari unsur Akademisi, menekankan bahwa akar persoalan terletak pada perilaku manusia.
“Hutan sebenarnya tidak bermasalah. Manusialah yang bermasalah. Kita membutuhkan hutan, dan hutan juga membutuhkan kita. Di sinilah nilai agama menjadi penting untuk mengendalikan diri,” katanya.
Dia menambahkan, ajaran agama memiliki perangkat moral seperti larangan merusak, dorongan berbagi, serta pengendalian diri yang dapat menjadi fondasi kuat dalam menjaga lingkungan.
Dari perspektif keagamaan, perwakilan Advisory council IRI yang berasal dari dari Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Suhardin , menegaskan bahwa gerakan moral membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
“Gerakan moral memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, kekuatan moralitas adalah fondasi utama yang mampu menjaga arah perubahan. Kita berada di jalur yang benar, tinggal bagaimana gerakan ini dijalankan dengan perhitungan yang matang,”ujarnya.
Dia menekankan pentingnya strategi yang tepat, mulai dari pemilihan isu, penguatan organisasi, hingga penyebaran gerakan ke daerah melalui jaringan yang solid.
Namun demikian, tantangan di lapangan tidak sederhana. Sejumlah peserta diskusi menyoroti kompleksitas kebijakan yang kerap tidak berpihak pada perlindungan hutan dan masyarakat adat. Bahkan, dalam beberapa kasus, pembangunan di satu wilayah justru memicu kerusakan di wilayah lain.
Perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Erasmus Chayadi mengatakan, tantangan ke depan semakin besar, terutama karena praktik eksploitasi kini kerap dibungkus dengan narasi “hijau” atau berkelanjutan.
Meski demikian, harapan tetap terbuka.
Gerakan moral lintas iman dinilai mampu menjadi kekuatan alternatif ketika jalur advokasi kebijakan mengalami kebuntuan.
“Gerakan moral bisa disuarakan kapan saja dan oleh siapa saja. Ini kekuatan yang tidak boleh diremehkan,” ujar salah satu peserta.
//Dari Seruan Moral ke Aksi Kolektif//
Kampanye “No Forests, No Future” dirancang tidak berhenti pada tataran wacana.
IRI Indonesia menyiapkan pendekatan terintegrasi yang mencakup peningkatan kesadaran publik, mobilisasi aksi kolektif, serta dorongan terhadap perubahan kebijakan.
Selain itu, penguatan jaringan di tingkat daerah melalui pembentukan dan aktivasi chapter menjadi salah satu fokus utama. Selama lima tahun terakhir, IRI Indonesia telah membangun sejumlah jaringan lokal, namun implementasinya dinilai masih perlu diperkuat.
“Kita sudah punya fondasi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menghidupkan kembali energi di daerah agar gerakan ini benar-benar berdampak nyata,” ujar Hening.
Pendekatan IRI Indonesia juga menggabungkan nilai keagamaan, pengetahuan ilmiah, dan advokasi kebijakan. Kombinasi ini diharapkan mampu menjangkau masyarakat luas sekaligus memengaruhi pengambil keputusan.
Ketua Permabudhi, Prof Philip K Widjaja, yang juga merupakan advisory Council IRI Indonesia menilai hutan tropis Indonesia memiliki keunikan yang sangat penting bagi kehidupan global.
“Hutan di kawasan khatulistiwa memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa dan saling terhubung. Kehilangannya akan berdampak luas, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia,” ujarnya.
Melalui kampanye itu, IRI Indonesia juga berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat dengan media dan generasi muda untuk memperluas jangkauan pesan.
“Hutan adalah rumah bersama. Menjaganya bukan pilihan, melainkan tanggung jawab moral kita semua,” ujar Hening.
Dengan semangat kolaborasi lintas iman, kampanye “No Forests, No Future” diharapkan menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai kepentingan ekonomi dan politik, masa depan bumi tetap bergantung pada satu hal mendasar: keberlangsungan hutan. (lis)









