Medan, 4/6 (indonesiaaktual.com)– Riuh rendah suara anak-anak muda memenuhi salah satu sudut SMA Swasta Dr Wahidin Sudirohusodo Medan, Jumat (29/5/2026).
Di balik keriuhan itu, ada sebuah misi besar yang sedang dirayakan: masa depan bumi yang lebih hijau, adil, dan inklusif.
Hari itu menjadi saksi bisu digelarnya acara puncak sekaligus penutupan Student Action for Environment (SAFE) Project bertajuk “Showcasing Praktik Baik SAFE Project Lintas Pihak”.
Program transformasional yang diinisiasi oleh para Fellows dari Tanoto Foundation itu lahir sebagai respons nyata atas krisis iklim global yang kian mencemaskan. Bedanya, gerakan tersebut tidak dimulai dari podium-podium besar, melainkan dari akar rumput sekolah, menyasar anak-anak dan pemuda perempuan di Kota Medan lewat pendekatan yang responsif gender.
//Sinergi Pentahelix di Ruang Kelas//
Pendidikan lingkungan kerap kali hanya berakhir di lembar buku teks. Namun, di forum komosal SAFE Project, wajah pendidikan itu berubah menjadi pameran karya siswa yang penuh warna dan diskusi interaktif.
Lebih dari 20 sekolah dan komunitas lingkungan di Kota Medan berkumpul, duduk bersama dalam sebuah diskusi pentahelix yang hangat.
Keterlibatan lintas sektor pun terlihat nyata. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumut yang hadir dalam sesi talkshow itu, Rebayat Jelita Nainggolan mengatakan, pintu mereka selalu terbuka untuk membawa program DLHK Goes to School langsung ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Komitmen itu, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda tersebut tidak sebatas retorika.
Sebuah Plastic Dropbox bantuan dari DLHK Sumut diserahkan langsung kepada pihak SMA Swasta Dr Wahidin Sudirohusodo sebagai fasilitas nyata pemilahan sampah.
Dukungan swasta juga mengalir dari PT Roda Hijau yang menekankan pentingnya keselarasan antara infrastruktur, regulasi, dan keaktifan generasi muda. Sementara dari sisi komunitas, SOS Children’s Village Medan membawa perspektif pentingnya edukasi parenting PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dalam memilah sampah dari rumah, diperkuat oleh Forum Anak yang siap mengadvokasi kebijakan lingkungan yang lebih ramah anak.
//Angka dan Cerita: Mengubah Perilaku lewat Praktik//
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah pemaparan Learning Paper, sebuah hasil riset komprehensif selama proyek ini berjalan. Stephanie Dinda Iskandar, salah satu Tanoto Fellow, memaparkan data yang menggembirakan.
“Data evaluasi membuktikan adanya daya dongkrak kesadaran dan peningkatan pengetahuan kognitif yang sangat nyata setelah peserta terlibat dalam aktivitas berbasis praktik,” ujar Stephanie di hadapan para peserta.
Tanoto Fellow lainnya, Arief Rahman Nur Fadhilah, mengatakan, tingginya antusiasme anak-anak terhadap konsep edukasi promotif itu adalah modal sosial yang sangat besar.
*Ini modal kita untuk melahirkan school champion baru yang siap menggerakkan peer-to-peer learning secara berkelanjutan di sekolah masing-masing,”katanya.
//Apresiasi dan Estafet Komitmen//
Keberhasilan proyek kolaboratif para Fellows it menuai decak kagum dari pihak tuan rumah. Kepala Sekolah SMA Dr. Wahidin Sudirohusodo Medan, Dr Huliman, M Kom, menegaskan bahwa pendidikan hijau bukan lagi sekadar muatan lokal pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak.
“Melihat dampak nyata proyek ini, kami mengajak sekolah-sekolah lain di Medan untuk mereplikasi apa yang telah sukses dijalankan para Fellows, salah satunya di sekolah kami,” katanya.
Apresiasi serupa juga datang dari Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva.
Dia mengaku bangga atas inisiatif mandiri para Fellows yang mampu menggerakkan kemitraan nyata dan memberikan dampak konkrit bagi masa depan pendidikan hijau lokal.
Acara tidak berhenti pada selebrasi.
Melalui lokakarya mini dan Focus Group Discussion (FGD) Collaborative Project Development, seluruh undangan ditantang untuk langsung merancang aksi nyata dan memetakan potensi replikasi program di instansi masing-masing.
Pada hari itu, sebuah prosesi penandatanganan Berita Acara komitmen bersama dilakukan oleh seluruh peserta, komunitas, hingga narasumber talkshow. Lembaran komitmen itu menjadi jaminan bahwa akses dan kerja sama untuk proyek-proyek keberlanjutan di masa depan akan tetap terbuka lebar.
Dari Medan, sebuah pesan kuat telah dikirimkan: bahwa gerakan aktivisme lingkungan yang responsif gender, inklusif, dan berkelanjutan di tingkat pelajar bukan lagi sebuah mimpi di awang-awang, melainkan sebuah aksi nyata yang sudah dimulai dari sekarang. (lis)








