Medan, 25/10 (indonesiaaktual.com) – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara (Sumut) udah mengangkut 85.785 ton minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) selama Januari-September 2026.
“Tonase CPO yang diangkut KAI Divre 1 Sumut itu meningkat 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 78.142 ton,”ujar Manager Humas KAI Divre I Sumut, Anwar Yuli Prastyo di Medan, Minggu.
Menurut dia, peningkatan tersebut menunjukkan peran besar angkutan kereta api dalam mendukung distribusi komoditas perkebunan dari sentra produksi menuju simpul perdagangan dan pengiriman melalui jalur laut.
“Capaian pertumbuhan ini menggambarkan peran nyata angkutan kereta api dalam mendukung distribusi komoditas perkebunan di Sumut. Dengan kapasitas angkut yang besar dalam satu rangkaian, kereta api dapat menjadi pilihan efisien, terutama untuk koridor dengan volume muatan tinggi,” ujarnya.
Sebagai salah satu provinsi dengan aktivitas perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit yang masif, Sumut, ujar Anwar sangat membutuhkan dukungan logistik yang handal dari kawasan produksi menuju fasilitas pengolahan dan perdagangan.
Kehadiran transportasi berbasis rel memperluas opsi logistik bagi para pelaku usaha, sekaligus membantu mengurangi beban lalu lintas di jalan raya dari tekanan kendaraan berat.
Meski demikian, katanya, peluang pengangkutan CPO dengan kereta api masih sangat besar.
Data BPS Sumut mencatat produksi kelapa sawit daerah itu mencapai 8,25 juta ton pada 2025, yang berpotensi menghasilkan 1,897 juta ton CPO.
Dari potensi tersebut, kereta api baru mengangkut 107.199 ton atau sekitar 5,6 persennya
“Salah satu tantangan dalam mengoptimalkan potensi tersebut adalah keterbatasan infrastruktur jalur rel. Dari 21 kabupaten/kota daerah penghasil sawit di Sumut,” katanya.
Saat ini baru 7 daerah yang dilintasi jalur kereta api, yakni Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Simalungun, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batu Bara, dan Asahan.
Sementara itu, sejumlah daerah dengan perkebunan sawit yang luas, seperti Langkat, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara, belum terhubung dengan jaringan rel. Kondisi tersebut membuat pengembangan angkutan berbasis kereta api masih bergantung pada ketersediaan infrastruktur dan konektivitas antara kawasan produksi, fasilitas pemuatan, serta tujuan distribusi.
Anwar menyebutkan, saat ini, KAI Divre I Sumut mengoperasikan empat stasiun untuk mendukung pemuatan CPO, yakni Stasiun Perbaungan yang terhubung dengan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina.
Kemudian, Stasiun Tebing Tinggi dengan PKS Pabatu, Stasiun Perlanaan dengan PKS Gunung Bayu, serta Stasiun Pulu Raja yang terhubung dengan fasilitas pengisian PKS Pulu Raja.
Keempat stasiun tersebut menjadi simpul penghubung antara fasilitas pengolahan kelapa sawit dan jaringan angkutan kereta api sebelum komoditas dikirim ke tujuan berikutnya.
“KAI Divre I Sumut terus mendorong optimalisasi angkutan barang berbasis rel untuk mendukung distribusi komoditas unggulan daerah. Melalui peningkatan keandalan layanan, pemanfaatan kapasitas sarana, serta kolaborasi erat bersama pelaku industri dan pemangku kepentingan, angkutan CPO diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap terwujudnya sistem logistik Sumut yang lebih efisien dan berdaya saing,” ujar Anwar. (lis)








