Medan 28/9 (indonesiaaktual.com) – Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Greenfaith dan MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate impact) meluncurkan Buku Fikih Energi Berkeadilan.
“Peluncuran buku itu di Jakarta, Jumat, 27 September 2024 menjadi respons penting terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan energi, dengan menekankan perlunya paradigma baru untuk menciptakan keberlanjutan lingkungan melalui program transisi energi bersih yang adil,”ujar Ketua MLH PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, S.E., M.Si di Jakarta, Jumat (27/9/2024)
Fikih Transisi Energi Berkeadilan merupakan langkah nyata dari Risalah Umat Muslim untuk Indonesia Lestari yang diluncurkan pada tahun 2021 di mana berbagai organisasi Islam dan para pengamat isu iklim yang bergabung dalam MOSAIC berkomitmen untuk berkolaborasi dalam berbagai inisiatif untuk solusi iklim.
;Buku itu menegaskan bahwa pemanfaatan energi harus melampaui pendekatan ekonomi semata, dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kelestarian sumber daya, serta keadilan sosial dan ekonomi.
M. Azrul Tanjung, mengatakan, MLH dengan dukungan Majelis Tarjih, merumuskan sebuah buku yang diharapkan menjadi pemicu untuk melakukan terobosan dalam Energi Terbarukan.
Harapannya, buku itu dapat membuka hati semua orang untuk berpikir bahwa keselamatan anak cucu ke depan adalah tugas kita hari ini.
Fikih Transisi Energi Berkeadilan merupakan keberlanjutan dari Fikih yang sebelumnya telah dikeluarkan Muhammadiyah antara lain Fikih Air, Fikih Agraria dan Kebencanaan.
Salah satu penulis dari Majelis Tarjih,
Niki Alma Febriana Fauzi mengatakan, keadilan menjadi salah satu pesan kunci dari Fikih itu karena transisi energi bukan sekedar perubahan dari satu energi ke yang lain, tanpa aspek berkeadilan.
“Selama ini banyak upaya transisi energi masih jauh dari aspek berkeadilan, misalnya bagaimana masyarakat sekitar justru tidak mendapatkan akses energi itu sendiri,”ujar Niki Alma Febriana Fauzi.
Hening Parlan, dari GreenFaith dan MLH Muhammadiyah yang juga salah satu penulis buku, menambahkan, hal itu menjadi penting karena Fikih Muhammadiyah bukan hanya bicara nilai dan ideologi, tetapi juga diikuti pada konteks dan rencana aksi yang jelas.
Fikih Transisi Energi Berkeadilan menjadi ijtihad intelektual dari warga Muhammadiyah untuk menangani isu energi, sehingga kita bisa beralih dari energi kotor ke energi yang lebih bersih.
Fikih Transisi Energi Berkeadilan sejalan dengan inisiatif MLH PP Muhammadiyah menggerakkan aksi nyata masyarakat untuk memberi sumbangsih pada capaian emisi nol bersih yang ditopang ekonomi regeneratif didukung Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) melalui program 1000 Cahaya.
Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE, Sahid Djunaedi, menyatakan, Indonesia memiliki potensi energi baru dan terbarukan yang sangat besar, mencapai 3.600 megawatt.
Namun pemanfaatan saat ini baru sekitar 13.000 megawatt, atau hanya 0,3% dari total potensi EBT yang ada.
Padahal, katanya, negara menargetkan Net Zero Emission di tahun 2060.
“Kami sangat mengapresiasi upaya Muhammadiyah dalam mendukung transisi energi. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, dukungan Muhammadiyah terhadap program pemerintah sangat penting, dan dengan buku Fikih itu,kami optimis umat Islam dapat mendukung transisi energi secara lebih massif, sehingga target 2060 menuju net zero emission bisa tercapai, “katanya
Sahid menjelaskan bahwa Pemerintah saat ini tengah menyusun RUU Energi Baru Terbarukan.
RUU itu diharapkan menjadi landasan yang kuat untuk menyamakan frekuensi terkait transisi energi dan menjadi satu payung hukum kebijakan pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia.
Buku Fikih Energi Berkeadilan ditulis berdasarkan beberapa nilai dasar dalam Islam, antara lain Tauhid, Ayat (tanda), Amanah, Adil, dan Mizan.
Beberapa prinsip umum yang menjadi pembahasan adalah Nilai Kesalehan, Regulasi, Kemaslahatan, Musyawarah hingga Konservasi
Buku Fikih itu tidak hanya membahas ranah konseptuak, namun juga praktik baik di level paradigma global, hingga akar rumput.
Buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan akan diluncurkan secara resmi di kegiatan Tanwir Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur beberapa bulan mendatang.
Buku ini juga akan menjadi acuan berbagai inisiatif lainnya seperti Sedekah Energi dan Bengkel Hijrah Iklim yang akan mengedukasi sejumlah pemuka agama muda tentang transisi energi berkeadilan dan bagaimana memulai transisi energi secara mandiri, yang pendanaannya dikumpulkan melalui sedekah atau bentuk filantropi Islam lainnya. (lis)